Wakil Walikota Langsa Menjadi Narasumber Seminar Nasional di Peusangan, Bireun

LANGSA – Wakil Walikota Langsa Dr H Marzuki Hamid MM menjadi Nara sumber dalam seminar nasional, yang dilaksanakan oleh universitas Al-muslim di gedung Auditorium Akademik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Bireun (Sabtu 30/10/21).

Dalam seminar tersebut Wakil Walikota menyampaikan materi terkait revitalisasi pembangunan daerah berbasis kolaborasi, potensi dan kawasan menuju rakyat sejahtera pada PKW 1 (Wilayah Timur).

“PKW adalah kawasan daerah yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota,” jelas Marzuki Hamid.

Dikatakannya, Pusat Kegiatan Wilayah (PKW 1) yang meliputi empat kabupaten kota wilayah timur Aceh yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, kota Langsa dan Gayo Lues. Inisiatif empat kabupaten tersebut yang disponsori oleh BAPPEDA Aceh Tamiang dan didukung oleh BAPPEDA masing-masing daerah itu untuk membentuk forum penggagasan kerjasama wilayah (TATIMLAGA).

“Masing-masing wilayah ini memiliki potensi dan hasil alam yang melimpah sehingga kolaborasi wilayah ini penting diwujudkan dengan dukungan semua pihak termasuk Pemerintah Aceh,” katanya.

Dia menjelaskan Aceh Tamiang kaya akan hasil perkebunan khususnya kelapa sawit dengan jumlah PKS sekitar 17 unit ditambah lagi pasokan dari Aceh Timur, Aceh Utara dan lain sebagainya. Selama ini produk keluar Aceh maksimal dalam bentuk CPO.

“Seharusnya Aceh Tamiang dikembangkan industri hulu hingga hilir yang berbasis kelapa sawit seperti pabrik minyak goreng dan turunannya, pabrik biodiesel, pabrik briket cangkang sawit, home industri produk kerajinan berbahan lidi kelapa sawit,” imbuhnya.

Untuk kabupaten Aceh Timur, sambungnya, kaya dengan potensi perikanan baik tangkap maupun tambak. Untuk itu Aceh Timur dijadikan pusat industri perikanan hasil perikanan dari wilayah Aceh dikumpulkan di Aceh Timur.

“Kemudian dibangun unit pengolahan ikan yang berkapasitas besar dan standar internasional,” kata Wakil Walikota Langsa.

Sementara, Gayo Lues yang memiliki hasil alam sayur mayur dan buah-buahan. Untuk itu perlu dibangun resi gudang berskala besar dan pendinginan (cold room) sehingga bisa menyimpan sayur mayur dan buah-buahan dalam waktu lama untuk menjaga mutu barang dan stabilitas harga.

“Pabrik kemasan sayuran dan buah-buahan bisa dibuat untuk menjangkau pasar luar negeri maupun mall dan supermarket dalam negeri,” cetusnya.

Sedangkan Kota Langsa, kata Marzuki Hamid, menjadi outletnya, untuk itu perlu dibangun tank storage, packing house dan pergudangan, kawasan berikat, pengerukan alur pelayanan sehingga kapal besar minimal 10.000 DWT bisa merapat ke pelabuhan Kuala Langsa dan bandara perintis.

“Supaya hal ini bisa diwujud. Maka dibutuhkan kolaborasi atau kerjasama pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat serta perguruan tinggi,” tutup Marzuki Hamid.[]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan